Ahmad Subli | Impian Untuk Berbakti

Jumat, 01 Oktober 2010

Bagikan artikel ini di :
AHMAD SUBLI - Dari dahulu cita-cita saya ingin berbakti pada nusa dan bangsa, inilah yang selalu jadi doa orang tua dan menjadi doa saya juga setiap selesai sholat. Berasal dari keluarga biasa, bukan keluarga petani karena tidak mempunyai sawah. Bukan pula keluarga pengusaha, karena tidak mempunyai usaha. Keadaan inilah yang menjadi salah satu motivasi saya untuk berusaha meraih sukses. Bermodalkan semangat dari Ayah serta Ibu yang sangat menyayangi keluarga serta selalu memberi motivasi, pada tahun 2007 doa saya terjawab dengan lulusnya saya menjadi perangkat desa. Saya sangat bahagia menjadi perangkat desa, karena ini adalah pilihan ibu saya yang akan menjadi jalan untuk berbakti pada negara ini, di samping sebagai harapan untuk merubah ekonomi keluarga kami. Impian untuk memperbaiki rumah dengan penghasilan sebagai perangkat desa tergambar indah saat itu.

Tapi setelah tiga tahun saya menjalaninya, sedikit demi sedikit saya memahami dunia birokrasi. Mulai menyadari kenyataan pahit bahwa keberadaan perangkat desa yang seolah-olah tidak dianggap ada. Penghargaan untuk pekerjaan ini jauh dari harapan saya semula dan sangat tidak sebanding dengan pengabdian sebagai ujung terdepan pelayanan masyarakat. Tidak habis saya berpikir, apakah para petinggi tidak merasakan betapa berartinya posisi ini dalam kepemerintahan? Apakah kebijakan dan pembangunan ini dapat terlaksana dengan baik tanpa peran perangkat desa? Saya mulai beranalogi sistem pemerintahan dengan sistem kinerja CPU Komputer. Prosesor Komputer kita ibaratkan adalah pemerintah pusat berjenjang hingga pemerintah kabupaten. Pemerintah Desa sebagai ujung terakhir pelaksana kebijakan bisa diibaratkan sebuah Printer atau alat pelaksana tugas. Meskipun CPU bagus dan kencang, apakah dia mampu melaksanakan tugas mencetak perhitungan-perhitungan yang dibuatnya? Tidak akan pernah bisa tanpa adanya Printer. Begitu pula dengan pemerintahan ini, apakah Jakarta mampu melaksanakan tugas-tugas dan pelayanannya sampai kepada masyarakat tanpa peran serta pemerintah desa? Misalpun bisa, sangat sulit dan tetap harus menyiapkan tim pelaksana tugas.

Saya sangat berharap bahwa Pemerintah Pusat akan beranalogi seperti ini, sehingga mampu merawat dan menghargai keberadaan perangkat desa. Menghargai dengan menganggapnya sebagai salah satu bagian dari pemerintahan dan memberikan kesejahteraan yang sepatutnya. Tapi apa daya, jangankan sejahtera dan mampu memperbaiki ekonomi keluarga, dilirikpun tidak. Ironis sekali.

Apalagi perangkat desa di NTB, disamping jauh dari kesejahteraan, masa jabatan perangkat desa dibatasi hanya 6 tahun. Bagaimana mungkin desa akan maju kalau seperti ini? Contoh kecil, ketika perangkat desa itu sudah sangat memahami dan matang dalam bekerja, jabatanpun segera habis dan digantikan orang-orang baru yang akan memulai belajar dari nol. Benar-benar sistem peraturan yang membingungkan, bisa berbeda cara pandang antara di satu tempat dengan tempat lain. Belenggu jabatan 6 tahun juga menyuburkan praktek arogansi oknum pimpinan pemerintah desa. Dibeberapa tempat, ada oknum Kepala Desa yang dengan seenaknya mem-PHK atau tidak memberi rekomendasi perangkat desanya untuk menjabat kembali hanya karena alasan like and dislike. Benar-benar seperti permainan PlayStation anak kecil.

Melihat kenyataan di atas, maka tergeraklah saya untuk mencari informasi tentang pemerintahan desa. Melalui internet, salah satunya dari Facebook, saya mulai mengenal PPDI dan perjuangannya. Berkenalan dan membangun jaringan di dunia maya untuk bertukar pikiran dan mencari ide untuk mendobrak ketidakadilan yang dialami perangkat desa di daerah saya. Bersyukur sekali, meskipun Nusa Tenggara Barat terlambat, tetapi awal harapan baru untuk profesi ini benar-benar kembali bangkit. Semoga dengan deklarasi yang sudah terlaksana pada tanggal 23 Oktober 2010, benar-benar merupakan kebangkitan perangkat desa di Nusa Tenggara Barat untuk menguatkan posisinya dalam peran sertanya membangun desa.


Nama Lengkap AHMAD SUBLI
Lahir :  Lombok Timur, 9 Desember 1986
Status :  Belum Menikah
Pendidikan :  Masih Kuliah di STMIK Lombok / S1 Teknik Informatika
Nama Ayah :  Zulkarnain (56 tahun)
Nama Ibu :  Suriati (45 tahun)
Apabila di dalam artikel atau tulisan ini terdapat kesalahan atau kekurangan,
mohon koreksi dan pelengkapan data sampaikan ke redaksi@ppdi.or.id

Tidak ada komentar: